Kamis, 19 Agustus 2010

SATU LAGI INSPIRASI INDONESIA LEWAT LIPUTAN 6 AWARDS 2010


Secara tidak sengaja pada tanggal 21 Juli 2010, sekitar jam 23.00 WIB  saya menyaksikan sebuah program acara di SCTV bertajuk LIPUTAN 6 AWARDS 2010 sayapun teringat akan sebuah ajang penghargaan yang pernah saya tonton beberapa waktu lalu yakni KICK ANDY AWARD. Sekilas saya melihat perhelatan acaranya sangatlah sederhana bila dibandingkan perhelatan ajang penghargaan lainnya yang dipenuhi oleh selebriti-selebriti top negeri ini, panggung nan megah, tatanan lampu bak diskotik dan segala sesuatu yang serba “wah…!”. Namun dibalik kesederhanaan perhelatan acaraini muncullah hal-hal yang sangat TULUS yakni pada saat bintang tamu yang membacakan nominasi/pemenang dimana mereka merasa terhormat untuk membacakannya dan disatu sisi mereka malu terhadap para nominasi tersebut (sesuatu yang jarang terjadi pada saat ini), apalagi oleh orang-orang yang merasa “Besar”, dan apa yang diucapkan sang pemenang penghargaan tersebut dimana bukan ungkapan dan teriakan yang bertele-tele namun air mata yang menetes dari pelupuk mata mereka sebagai ungkapan terima kasih seraya berkata mereka bukan apa-apa dan mereka bukan siapa-siap. Wow…. Sesuatu yang AWESOME. Sungguh luar biasa pengabdian mereka. Tiada ada kata yang lebih tepat dari “kemauan keras untuk mengabdi”  bagi sesama.   Gambaran dari moral yang sangat tinggi yang tidak dapat dinilai dengan ukuran “materi”. Ditengah-tengah gejolak riuh rendah dan hiruk pikuknya topik tentang rendahnya moral yang tengah melanda negeri ini, ditengah begitu banyaknya orang yang hanya “omong besar” tanpa kelihatan karyanya, ternyata masih ada orang-orang yang berhati mulia seperti mereka. Mereka membawa nilai kemanusiaan yang sangat luhur nilainya.   Betapa kontrasnya hal ini ?!
Demi dan atas nama kemanusiaan mereka menerima “award” ini….!
Orang-orang yang tidak banyak omong, akan tetapi langsung berbuat untuk mengangkat harkat sesama, menyelamatkan “masa depan suram” dari anak-anak yang terpaksa hidup tanpa belas kasih ayah dan ibunya, atas nasib perempuan-perempuan kita, atas kemewahan dan horror yang muncul di perfilman dan pertelevisian kita, atas tanah kita berpijak yang makin terkikis, dan masih banyak lagi. Mereka adalah “the man of action”, tanpa banyak yang mengetahuinya, tanpa upaya gembar-gembor. Mereka adalah Sang Pahlawan !
Pemenang “awards” ini terpilih oleh Tim verifikasi atas dedikasi dan karyanya yang mampu memberdayakan masyarakat serta memberikan inspirasi bagi kemajuan bangsa.
 
Berikut adalah siapa dan apa yang telah di perbuat untuk sang “the man of action” pemenang penghargaan Liputan 6 Awards 2010 :

Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen sebagai peraih penghargaan kategori Seni Budaya merupakan pasangan yang telah banyak berkarya dalam  mengangkat budaya Indonesia.


Alenia Pictures adalah sebuah rumah produksi asal Indonesia yang didirikan oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen.  Film perdana mereka, Denias, Senandung diatas Awan berhasil menembus persaingan di film Indonesia di tahun 2008 untuk mewakili Indonesia dalam Film Terbaik Berbahasa Asing di ajang Piala Oscar.
Filmografi Alenia Pictures :
Denias, Senandung diatas Awan (produksi 2006)

Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak suku pedalaman Papua yang bernama Denias untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di pulau Cendrawasih ini. Cerita dalam film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua yang bernama Janias.
Sebuah film yang harus ditonton oleh mereka yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang dapat membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri ini masih sangat mahal, masih sangat rumit dan masih banyak terjadi diskriminasi-diskriminasi yang tidak masuk akal.
Dalam film ini juga dapat kita lihat keindahan provinsi Papua yang berhasil direkam dengan begitu indahnya. Disutradari oleh John de Rantau dan dibintangi antara lain oleh Albert Thom Joshua Fakdawer, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen dan Marcella Zalianty. 


Liburan Seru…!! (produksi 2008)
Film ini berkisah tentang anak-anak yang mengisi hari liburnya dengan melakukan liburan di luar kota. Pada awalnya mereka dapat berlibur seperti biasa dengan melakukan petualangan menggunakan peta yang diberikan teman mereka. Sampai mereka bertemu dengan para penculik yang menculik teman mereka. Dimulailah petualangan mereka untuk menyelamatkan temannya dan menyelesaikan petualangan mereka sendiri dalam mengungkap peta yang ternyata menjadi incaran dari para penculik. Disutradari oleh Sofyan D Surza, dan dibintangi antara lain oleh Ken Nala Amrytha, Raja Intan Permata, Arsenna M. Rahasi, Quisha Jasmine Haq, Minus C Karoba, Donny Damara, Ira Wibowo, Cynthia Lamusu, Berliana Febrianti, Alvin Adam.

King (produksi 2009)
Kisah perjuangan dan perjalanan panjang seorang anak bernama Guntur dalam meraih cita-citanya menjadi seorang juara bulutangkis sejati, seperti idola dia dan ayahnya, Liem Swie King.
Ayah Guntur adalah seorang komentator pertandingan bulutangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis
Mendengar cerita ayahnya tentang ”KING” sang idola, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada dihadapannya, sebagai sahabat setianya Raden pun selalu berusaha membantu Guntur, walaupun kadang bantuan Raden tersebut justru seringkali menyusahkannya. Namun dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulutangkis kebanggaan INDONESIA dan kebanggaan keluarga.
Disutradari oleh Ari Sihazale, dan dibintangi antara lain oleh Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Ariyo Wahab, Wulan Guritno, Aa Jimmy, Valerie Thomas.


Tanah Air Beta (produksi 2010)
Tahun 1998. Timor-Timur berpisah dari Indonesia, membuat perpisahan harus terjadi. Banyak keluarga yang mendapatkan konflik internal antara tetap berada di Indonesia, yakni di Kupang, atau memutuskan berpindah ke Timor Timur. Sebuah keluarga yang ayahnya sudah wafat adalah salah satu keluarga yang menerima konflik tersebut. Merry memutuskan untuk memilih tetap berada di Indonesia dan bersekolah di sekolah kecil yang berguru ibunya, Tatiana. Mereka berdua berpisah dengan kakak Merry, Mauro yang memilih tinggal di Timor Timur bersama pamannya. Dirumah mereka, mereka berteman dengan pemilik toko kelontong; Koh Ipin dan Cik Irene. Disekolah, Merry adalah korban kejahilan teman sebayanya, Carlo yang sebenarnya hanya menginginkan seorang adik. Ia dirawat oleh seorang keturunan Arab bernama Abu Bakar yang juga bersahabat dengan Tatiana setelah Ibu Carlo meninggal. Tatiana rajin pergi ke pengungsian untuk bertemu seorang relawan bernama Lukman untuk mencari tahu info mengenai Mauro.
Diantara potret sosial tentang kehidupan di pengungsian itu, Merry menduga ibunya sakit keras karena terbatuk-batuk. Dokter puskesmas kenalan Tatiana dan Merry, Dr. Joseph diminta Merry untuk memeriksa Tatiana. Tatianapun diperiksa oleh Dr. Joseph, dan dibantu oleh Abu Bakar. Tatiana diceritakan oleh Abu Bakar mengenai berita yang disampaikan Lukman tentang Mauro beberapa hari yang lalu yang membuat Merry gembira karena menduga Mauro akan ke tempatnya. Ternyata Mauro yang berada disana tidak menyukai ibunya yang tidak pernah menengoknya, padahal itu semua adalah salah kaprah karena waktu tiba Mauro dan Tatiana selalu tidak sama. Maka, Mauro hanya meminta Merrylah yang bertemu dengannya. Hal yang diceritakan di puskesmas itu didengar oleh Merry yang ingin menjenguk ibunya, Merrypun bertekad pergi ke perbatasan sendirian dengan uang tabungannya. Cik Irene berbaik hati memberikan bekal untuk Merry. Merrypun pergi sendiri dengan menggunakan bus hingga sampai ke terminal terdekat dengan perbatasan (yang juga masih sangat jauh dari perbatasan). Bertanya kepada seorang supir, ia mengetahui jalan ke perbatasan dan nekat berjalan kaki. Abu Bakar dan Tatiana yang baru saja pulang, mengetahui Merry sudah tidak ada. Tatianapun menduga Merry mendengar pembicaraannya dengan Abu Bakar. Abu Bakarpun segera menyuruh Carlo untuk mencari Merry. Carlo sampai ke terminal terakhir dan mendapat info dari supir yang ditanyai Merry. Carlo juga berjalan kaki, tapi ia beruntung menemukan mobil pengangkut. Iapun ikut dan berhasil menemukan Merry dijalan. Segera setelah ditinggal oleh mobil pengangkut, Merry pingsan. Merrypun dibawa ke puskesmas terdekat dan cukup sehat untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan yang mereka lalui tidak mudah karena sedikitnya kendaraan yang lewat. Usaha yang ulet membuat mereka sampai di perbatasan. Mereka bertemu Lukman, Merry menunjukkan foto keluarganya dan hubungan darahnya denga Mauro dan Tatiana. Lukman mengatakan bahwa Mauro sudah sampai di perbatasan. Merry dan Carlo pergi ke perbatasan dimana keluarga yang berpisah saling bertemu. Disana, lewat lagu Kasih Ibu, Merry bertemu dengan Mauro. Saat mereka tengah berangkulan, Merry meluruskan kesalahpahaman Mauro. Tepat saat itu, Tatiana dan Abu Bakar datang. Tatiana segera pergi ke Mauro dan Merry, dan berpelukan.
Disutradarai oleh Ari Sihazale dan dibintangi antara lain oleh Alexandra Gottardo, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, Yehuda Rumbindi, Ari Sihazale, Robby Tumewu, Tessa Kaunang, Griffith Patricia, Marcel Raymond, Martalita Nadia.


Pilot Singapore Airlines, Budi Soehardi meraih penghargaan untuk kategori Pendidikan karena telah memberikan perhatian luar biasa bagi pendidikan anak-anak panti asuhan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Indonesia boleh berbangga hati dengan sosok berhati mulia Budi Soehardi, seorang pilot yang dengan suka rela membuka panti asuhan bagi 47 anak yatim di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Berkat upaya kemanusiaan yang ia lakukan itu, Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan 2009 Top 10 CNN Heroes, acara yang menyoroti dedikasi orang-orang luar biasa di seluruh dunia. Soehardi terpilih dari 9000 kandidat dari 100 negara.

Anak-anak yatim di panti asuhan Roslin Orphanage sangat  dekat dengan semua memiliki cerita yang sangat sedih. Beberapa bayi datang karena ibunya meninggal tepat setelah melahirkan karena kekurangan gizi. Lain-lain berasal dari kemiskinan. Beberapa berasal dari keluarga [yang] hanya tidak ingin anak-anak dan meninggalkan mereka.
Soehardi (53) sebenarnya bekerja sebagai pilot Indonesia dan tinggal di Singapura bersama istrinya, Peggy (47) anak-anak di panti asuhan. Pasangan ini memiliki tiga anak sendiri. Namun bagi mereka, tidak ada perbedaan antara anak biologis mereka dengan anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Mereka semua mendapatkan ruang hidup bersih, vaksinasi, makanan, pakaian dan vitamin. Anak-anak ini dianggap bagian dari keluarga mereka. 

Anak-anak di panti asuhan ini sendiri kebanyakan anak-anak yang orangtuanya menjadi korban dan pengungsi akibat konflik di Timor Timur. Sebagian anak sudah dirawat sejak mereka bayi.
Soehardi, yang ayahnya meninggal ketika ia berumur 9 tahun, dapat merasakan betul apa yang dirasakan anak-anak ini. Ia menceritakan bagaimana awalnya mendirikan panti asuhan ini.

Tahun 1999, sebuah laporan berita mengenai situasi di Timor Timur mengilhami Soehardis untuk mengambil tindakan. Saat itu, Soehardi sedang makan malam dan menonton CNN dengan istri dan keluarga di rumah di Singapura, ketika ia melihat nasib para pengungsi Timor Timur melarikan diri untuk Timor Barat, Indonesia. Keluarga yang tinggal di kardus, anak-anak mengenakan kain untuk pakaian, dan sanitasi tidak ada. 
Kondisi masyarakat semakin miskin akibat konflik di Timor Timur yang muncul setelah warga memberikan suara untuk kemerdekaan dari Indonesia. Setelah pemilihan, milisi – dengan dukungan dari pasukan keamanan Indonesia – meluncurkan kampanye kekerasan di seluruh wilayah. Ratusan orang Timor Timur tewas, dan sebanyak 250.000 orang mengungsi dari rumah mereka, menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, UNHCR. 

Sebelumnya, Soehardis dan keluarga telah berencana untuk mengambil liburan, tapi setelah menonton berita itu, mereka memikirkan kembali rencana mereka itu.
Dia pun mulai berkoordinasi mengenai sumbangan keuangan, makanan, pakaian dan persediaan. Dengan bantuan dari teman-teman, relawan, Soehardis berhasil mengumpulkan lebih dari 40 ton makanan, obat-obatan dan peralatan mandi untuk dikirimkan ke kamp-kamp pengungsi dan daerah konflik di Timor Timur.
Soehardi kemudian menentukan Timor Barat sebagai ruang bagi anak yatim piatu. “Istri saya awalnya meminta saya untuk membangun tiga kamar. Lalu dua jam kemudian ia [meminta untuk] lima kamar, dan kemudian sembilan kamar dan akhirnya, gedung panti asuhan.”
Mereka menyelesaikan pembangunan panti asuhan mereka dalam 11 bulan dan menamakannya Panti Asuhan Roslin (Roslin Orphanage).
Pada bulan April 2002, panti asuhan membuka dan menyediakan rumah bagi empat orang anak. Sejak saat itu tempat tinggal telah diperluas untuk menyediakan pendidikan gratis, pakaian, perumahan dan makanan untuk 47 anak-anak dari segala usia, bayi yang baru lahir hingga anak yang sudah mulai sekolah di universitas. Sekitar setengah dari penghuni pantia asuhan, usianya di bawah 8 tahun.
Panti asuhan ini dibangun di atas tanah yang disumbangkan karena tanahnya tandus. Tapi sekarang, beras berkualitas yang mereka makan anak-anak, semata-mata berasal dari tanah itu sendiri.
Ini adalah taktik pemotongan biaya yang beruntung, terutama setelah Soehardi tidak lagi bekerja sebagai pilot sejak November demi perjuangan ekonomi panti asuhan. Soehardi menggunakan gajinya untuk membiayai panti asuhan dan mempertahankan pendanaan pendidikan mahasiswa kedokteran, Mangi. Ia berharap bahwa akhir kontraknya tidak akan mempengaruhi kesejahteraan anak-anak.
“Membantu anak-anak ini adalah suatu kehormatan bagi saya dan istri saya karena itu memberi kembali kepada masyarakat … memberikan kembali apa yang telah diberkati kepada kita,” kata Soehardi.

Silverius Oscar peraih penghargaan kategori Pemberdayaan Masyarakat merupakan aktivis "Telapak" yang berusaha menghentikan pembalakan liar melalui program community logging di Sulawesi.

Kekayaan hasil hutan Bangsa Indonesia sangatlah besar. Hanya saja, selama ini belum dikelolah sebagaimana mestinya, hingga tak ada nilai tambah yang diperoleh masyarakat. Apalagi, kebiasaan buruk yang kita kenal dengan sebutan illegal logging sudah jadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Ini wajar saja, mengingat illegal logging begitu menjanjikan pendapatan yang langsung bisa dirasakan masyarakat.
Namun tanpa disadari, kerusakan hutan yang begitu parahnya, apalagi tidak adanya nilai tambah terhadap hasil yang dijual pada konsumen, membuat masyarakat tetap miskin dan alam pun jadi semakin rusak. Inilah yang jadi perhatian sekelompok anak muda yang peduli akan kelestarian lingkungan.

Silverius Oscar Unggul Cs kemudian turun lapangan melakukan pembinaan pada masyarakat yang selama ini kerap terlibat illegal logging. Meski tak mudah mengubah kebiasaan masyarakat, namun dengan niat dan semangat mereka coba memberi pemahaman dan pembinaan pada masyarakat.


Langkah awal di tahun 2003, mereka yang tergabung dalam LSM Jauh (Jaringan untuk Hutan) itu membentuk Koperasi Hutan Jaya Lestari (HJL) yang kini anggotanya sudah berkisar 500 orang dari 21 desa yang ada di 4 kecamatan yaitu Lainea, Kolono, Palangga dan Andoolo.

Anggota koperasi kemudian dibina melakukan penebangan dengan prinsip tebang pilih lalu menambalnya dengan tanaman baru. Menurut dia, tanaman jati yang ideal untuk ditebang adalah yang berusia sekitar 15 hingga 20 tahun. Namun setelah ditebang, masyarakat diharuskan menanam kembali. Sehingga hutan yang merupakan kekayaan alam bangsa kita bisa tetap lestari dan dinikmati anak cucu kita kelak.

 
Menurut Onte, yang kini tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di Universitas Trisakti itu bahwa sejak program itu diperkenalkan pada masyarakat, sudah ada sekitar 2 juta pohon jati yang ditanam di atas lahan seluas 2000 hektar. ’’Tanpa program muluk-muluk semisal penanaman sejuta pohon. Namun dengan kesadaran warga, hal itu dapat mereka lakukan,’’ kata Onte.

Setelah system ini jalan, mereka lalu meminta lembaga yang mengeluarkan sertifikat untuk melakukan penelitian yaitu Forest Steward Council (FSC). Hasilnya, FSC yang begitu ketat dalam melakukan pengawasan pada pengelolaan hasil hutan berkesimpulan bahwa, system yang mereka terapkan layak mendapat sertifikat. Lembaga ini pun akan melakukan pengawasan dan meneliti setiap 5 tahun, untuk mengetahui konsistensi masyarakat dalam menjalankan system tersebut.

Efek domino dari diperolehnya sertifikat itu adalah pengakuan dunia internasional terhadap produk kayu dari masyarakat Konawe Selatan (Konsel), khususnya yang tergabung dalam koperasi HJL tadi. Sesuai kesepakatan internasional, dalam rangka menjaga kelestarian alam, maka produk-produk furniture hanya akan laku di pasar internasional jika dibuat dari bahan kayu yang sudah disertifikasi.

Inilah yang membuat kesejahteraan warga meningkat. Harga jati yang sudah bersertifikat melonjak tajam dari Rp 600 ribu/kubik ketika masih dikelolah dengan cara illegal logging, jadi Rp 6,4 juta/kubik setelah mendapat sertifikat.

Menurut Silverius, jika pemerintah berperan dalam hal ini, maka dia berpendapat tak perlu mendatangkan investor untuk mengeruk kekayaan tambang bangsa kita yang juga cendrung merusak lingkungan hidup. Cukup dengan memaksimalkan hasil hutan dengan cara seperti tadi, maka daerah ini akan mampu bersaing dengan daerah lain.
Kini, setelah semua upaya sudah membuahkan hasil, Silverius mulai memetika hasil. Sebuah majalah terkemuka Amerika yaitu ’’Conde Nast Traveller’’
 menobatkan dia sebagai penerima award.

Saya Ingin, Generasi Muda Kita Punya Kebanggaan
Satu prestasi membanggakan dicatat salah seorang putera asal Kendari yaitu Silverius Oscar Unggul. Di tengah aktivitasnya dalam mengkampanyekan pelestarian lingkungan, pria yang akrab disapa Onte itu ternyata membuka perhatian dunia. Salah satu majalah terkemuka di Amerika Serikat yaitu ’’Conde Nast Traveller’’ memilihnya sebagai penerima award tahun ini menyisihkan ratusan peserta lain dari seluruh dunia.
Menurut Onte, dirinya menerima pemberitahuan tentang kemenangannya itu melalui email pertengahan Juli lalu. Sedang penerimaan award dijadwalkan berlangsung September mendatang di New York. Selain award, dia juga memperoleh hadiah uang sebsar 2000 US Dollar. Dalam agenda acara penerimaan award tersebut, dia juga bakal mendapat kesempatan berbicara di depan publik dan para dewan juri selama 3 menit.


Penghargaan yang diraih Onte ini bukanlah diperoleh secara kebetulan. Namun dirinya melalui perjuangan sejak bergabung dengan beberapa LSM yang konsen terhadap pelestarian lingkungan. Ketika itu, dia begitu prihatin dengan kondisi pengelolaan hutan jati di Konawe Selatan (Konsel). Bersama beberapa rekannya yang juga peduli dengan kelestarian lingkungan, alumni fakultas Pertanian Unhalu ini membentuk koperasi Hutan Jaya Lestari (HJL) di Konsel.

Melalui koperasi inilah, Onte Cs berhasil mengangkat harkat dan martabat para pengelolah kayu jati yang awalnya terlibat dalam aktivitas ilegall logging. Di tengah upayanya sudah membuahkan hasil, ternyata sebuah lembaga dunia yang setiap tahun memilih satu orang dari seluruh dunia yaitu Majalah ’’Conde Nast Traveller’’ menganugerahinya penghargaan prestisius tersebut.

’’Ini adalah untuk ke-12 kalinya, majalah tersebut memberikan award. Dan untuk orang Asia, ini adalah yang kedua. Pertama diberikan kepada orang Cina beberapa tahun silam. Awalnya, ada lebih dari 500 nominasi. Kemudian setelah melalui penjurian yang amat ketat, mengerucut menjadi 100, 50 kemudian 10 besar, 5 besar dan terakhir mereka memilih saya,’’ kata Onte.

Onte berharap dengan penghargaan yang dia terima bisa memberi efek kepada generasi muda untuk tidak pesimis dalam menatap persaingan global seperti sekarang. ’’Saya ingin kita punya kebanggaan bahwa ternyata anak-anak dari Kendari juga mampu berprestasi level dunia internasional,’’ kata Onte berharap.

Lourens Loho meraih penghargaan bidang Lingkungan Hidup karena memberi inspirasi budidaya pohon bakau di Pantai Tiwoho Minahasa Utara.


Tanaman Bakau yang ditanam Lourens Loho di pesisir Pantai Tiwoho, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, rupanya tidak sia-sia. Nama Lourens keluar sebagai pemenang dalam kategori Lingkungan Hidup. Ia begitu bangga dengan keluarganya. "Sebagai seorang petani, saya dedikasikan apresiasi ini kepada keluarga saya yang ada di rumah. Mereka selalu mendukung setiap kegiatan saya. Pesan saya, mulailah lirik lingkungan Anda dan jangan diabaikan," katanya.


Sejak 1995, Lourens yang dulu hanya kerja serabutan, menjadi kader konservasi Balai Taman Nasional Bunaken. Ia mulai membudidayakan pohon bakau dan menanami Pantai Tiwoho. Ia pilih bakau karena hutan bakau multifungsi. Selain sebagai benteng alam yang dapat menahan abrasi, hutan bakau juga menjadi tempat ikan berkembang biak.

Lourens semakin bersemangat untuk menghijaukan kawasan pantai lebih luas lagi. Kini, ia sangat identik dengan bakau. Ia pun tidak pelit berbagi pengalaman dengan orang lain termasuk kalangan mahasiswa maupun lembaga asing dalam upaya pelestarian alam.

Pohon-pohon bakau hasil budidaya Lourens tak hanya dimanfaatkan untuk konservasi alam di tanah kelahirannya, tapi juga dikirim ke luar negeri. Pohon bakau hasil usahanya dikirim ke Uni Emirat Arab

Arsinah Sumetro peraih penghargaan kategori Advokasi adalah figur yang telah mendirikan shelter Tenaga Kerja Indonesia di Entikong, Kalimantan


Prihatin atas nasib buruh migran perempuan yang sering diperlakukan secara semena-mena di negeri jiran Malaysia, Arsinah Sumetro mendirikan LSM Anak Bangsa. Srikandi yang sudah menjanda dan hanya lulusan SMA Persamaan, itu berjuang secara kesatria untuk menampung dan membela hak-hak buruh migran.
Dia merasa kasihan kepada kaum perempuan yang jadi buruh di negara lain karena mereka sering kali dilecehkan dan dijadikan barang dagangan, tanpa perlakuan yang manusiawi.

Arsinah bertekad membela kaum buruh migran berbekal pengalaman mendampingi korban perdagangan manusia (trafficking) saat bergabung di lembaga swadaya masyarakat (LSM) Agromitra (2001-2003). Kendati ibu empat anak ini bukanlah lulusan sarjana hukum, hanya mengantongi ijazah SMA persamaan, karena putri pasangan Sumetro dan Amas Ahmad ini berasal dari keluarga miskin, dia tetap gigih dan berani membela hak-hak buruh migran di tengah segala keterbatasan itu. Bagi Arsinah pendidikan bukanlah kendala untuk membela sesama.

Walau bukan orang bidang hukum, tetapi dia berani bergerak dalam bidang hukum. Dalam upaya pembelaannya, dia tidak pernah menyatakan diri sebagai pengacara atau kuasa hukum. “Saya hanya membela hak buruh migran,” katanya sebagaimana dikutip Kompas (4 Mei 2007). Sementara untuk dapat menguasai materi hukum, Arsinah belajar secara otodidak dari buku-buku dan ikut seminar.

Arsinah sudah menjanda sejak 1989 dan harus menghidupi empat anak sendirian. Rivani, suami yang menikahinya tahun 1975, meninggal dunia karena sakit. Perjuangan Arsinah sebagai orangtua tunggal untuk mencukupi kebutuhan keluarga sama sekali tidak melunturkan semangatnya untuk membela buruh migran.

Keberanian dan semangat itu pula yang membuat ia pernah mengalami beragam tindak kekerasan saat membela buruh migran. Ia pernah dicekal, diculik, dipukuli, dan dibuang ke hutan saat membela warga Indonesia yang menjadi korban trafficking di Malaysia.

Kekerasan yang pernah dia alami terus melekat dalam memori kehidupan Arsinah. Satu contoh terjadi pada 27 September 2006, saat dia menjemput perempuan 17 tahun asal Kabupaten Landak yang melarikan diri dari majikannya.
Remaja itu sudah 11 bulan menjadi pembantu rumah tangga tanpa diberi gaji di Malaysia. Bahkan, remaja itu sering disiksa hingga babak belur oleh majikan dan diberi makan yang sama dengan hewan peliharaan. Dalam pelariannya, si remaja diselamatkan oleh satu keluarga di Malaysia. Keluarga itu pula yang menghubungi Arsinah agar menjemputnya.

Dalam perjalanan pulang bersama TKI tadi, tepatnya di Sibu, Malaysia, Arsinah dicegat sejumlah lelaki tak dikenal. Mereka hendak merebut si TKI. Arsinah menantang. Meski sangat tidak imbang, ia berkelahi dengan beberapa lelaki itu hingga berhasil kabur membawa lari TKI yang dijemputnya.

"Saat masih di Agromitra tahun 2002, waktu menjemput buruh migran yang dilacurkan di Malaysia, saya malah sempat diculik dan dibuang ke hutan di Miri (Malaysia). Nyatanya, saya bisa selamat dan sampai sekarang masih hidup. Setiap orang akan mati. Kalau Tuhan menghendaki saya mati dengan cara begini, apa lagi yang harus saya takutkan," ujarnya.

Atas keprihatinan dan pengalaman itu Arsinah Sumetro mendirikan LSM Anak Bangsa di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, 14 Januari 2004. Entikong adalah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Tebedu di Sarawak, Malaysia. Kedua daerah itu merupakan gerbang resmi kedua negara. Di Entikong, Arsinah mengawali kiprah membela buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Sosok Arsinah bersahaja. Penampilannya santun dengan kerudung menghiasi kepala. Intonasi bahasa Arsinah lembut, tetapi pilihan kata dan kalimatnya selalu lugas, menyiratkan semangat yang meledak-ledak.

Dengan penampilannya itu, puluhan kali Arsinah menjemput dan membela TKI yang bermasalah di Malaysia, tanpa dikawal atau didampingi orang lain. Jika ada buruh migran yang gajinya tidak dibayar, ia pula yang menagih kepada majikan dan memberikannya ke buruh tersebut.

"Saya pelajari undang-undang Malaysia yang mengatur ketenagakerjaan. Saya menggunakan itu untuk menuntut dan membela hak-hak buruh migran. Sering kali saya harus berdebat, terlebih dengan Polisi Diraja Malaysia, sebelum akhirnya mereka membantu menagih gaji buruh ke majikan. Selama mereka tahu kita menguasai hukum Malaysia, tuntutan biasanya dipenuhi," papar Arsinah.

Karena sering melakukan pembelaan, Arsinah pernah berdebat dengan petugas imigrasi Malaysia yang melarangnya memasuki Malaysia, sekitar Juni 2003. Padahal, saat itu ia memiliki paspor dan dokumen lengkap. Petugas tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mencekal, dan ia juga mengancam akan melaporkan kasus ini kepada Perdana Menteri di Kuala Lumpur. Akhirnya, pihak imigrasi Malaysia menyerah.

Setelah menjemput buruh migran, Arsinah menampung mereka di rumahnya. Para pekerja itu dia rawat, dipulihkan semangat dan psikis mereka sebelum dipulangkan ke rumah masing- masing.

Arsinah menegaskan, dirinya dan LSM Anak Bangsa tidak pernah memungut uang sepeser pun dari para buruh migran.
"Aktivitas Anak Bangsa selama ini didanai donatur dan jaringan peduli HAM. Mereka bersedia memberi dukungan karena mengetahui persis komitmen dan integritas Anak Bangsa dalam membela hak buruh migran," ucapnya.

Anak Bangsa yang didirikan Arsinah bukanlah LSM yang memiliki kantor mewah, lengkap dengan pendingin ruangan, serta kendaraan operasional. Sejak tahun 2001 hingga awal 2007, Anak Bangsa menyewa garasi seluas 4 meter x 5 meter untuk dijadikan sekretariat.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono yang berkunjung ke Entikong, Januari lalu, secara mendadak memutuskan singgah dan menyaksikan sendiri kesederhanaan kantor Sekretariat Anak Bangsa.
Kegigihan dan integritas membela hak-hak buruh itu ternyata berbuah kepercayaan yang semakin besar dari donatur, ataupun jaringan pemerhati hak-hak buruh migran.

Departemen Pendidikan Nasional juga tergerak membangunkan sebuah gedung untuk aktivitas pendidikan luar sekolah. Fasilitas itu nantinya juga bisa dimanfaatkan Anak Bangsa untuk mendidik buruh migran yang mereka tampung.

Penghargaan khusus/special awards diberikan Liputan 6 SCTV kepada almarhum KH Abdurrahman Wahid atas jasa-jasanya dalam  memberikan inspirasi bagi masyarakat tentang keberanian berpendapat dan menerima perbedaan dalam hidup bermasyarakat.

Sesuatu yang haru terjadi pada saat pemimpin redaksi SCTV selaku pembaca penghargaan menuturkan sebuah kisah tentang pengalamannya di sebuah waktu pada tahun 1997 saat ia mewawancarai tokoh yang akan ia bacakan itu. Dengan agak gugup ia bercerita seputar perjumpaan wawancaranya dengan tokoh ini.
"Kalau pada suatu saat anda dipanggil selamanya, anda ingin dikenang sebagai apa?", tanya Don Bosco dengan sedikit berkaca-kaca. Tokoh ini kemudian menjawab, Saya hanya ingin di batu nisan Saya tertulis Di sini Beristirahat Seorang Pejuang Kemanusiaan Sejati.
Menurut pengakuan Don Bosco, Gus Dur ini penuh ilham tentang demokrasi. Gus Dur juga penuh ilham tentang kemanusiaan. "tokoh ini menggetarkan karena penuh ilham tentang kemajemukan dan menjadikan dirinya seolah menjadi rumah kita bersama," tuturnya.


Don Bosco membeberkan bagaimana jutaan pemirsa SCTV dan juga tim verifikasi Liputan6 Awards SCTV telah menetapkan Gus Dur sebagai tokoh yang paling pantas untuk dapat penghargaan sebagai orang yang paling memberikan inspirasi bagi Indonesia.
"Tidak mengherankan ketika tokoh ini pergi meninggalkan kita selamanya, jutaan orang tanpa dikerahkan mereka membiayai sendiri datang dari berbagai pelosok tanah air, datang ke makamnya menangis dan berdoa berhari-hari bahkan berbulan-bulan," kata mantan pemimpin redaksi metroTV. 


Direksi Utama SCTV Fofo Sariaatmadja memberikan langsung penghargaan tersebut kepada Istri Almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang naik ke atas panggung dengan kursi roda. Menerima special awards ini, Sinta merasa bangga sekaligus berterima kasih kepada SCTV yang telah menetapkan sosok Gus Dur sebagai tokoh inspiratif bangsa.
"Saya atas nama seluruh keluarga besar Abdurrahman Wahid mengucapkan terima kasih terutama kepada Liputan6 Awards SCTV," kata mantan ibu negara yang hadir didampingi oleh kedua putrinya Yenny Zannuba Wahid dan Anita Hayatunnufus.
Ternyata, lanjut Sinta, di mata masyarakat Gus Dur masih dianggap sebagai tokoh yang patut diberi penghargaan.
"Mudah-mudahan apa yang telah diperjuangkan dan dilakukan oleh suami saya KH. Abdurrahman Wahid tentang pluralisme, humanisme, demokrasi, dan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan ketidakadilan akan tetap kita teruskan dan kita perjuangkan", harap pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Saya ingin menyampaikan  rasa “hormat” yang tulus  kepada para pemenang Liputan 6 award 2010 yang saya sebut sebagai “the man of action”, juga buat SCTV dan Liputan 6 atas terselenggaranya penghargaan yang sangat menginspirasi kita semua.
Satu hal yang saya petik yakni bahwa sekarang saatnya bangkitkan nasionalisme bukan dengan kata-kata tetapi dengan karya nyata. Jadi berikan karyamu “sekecil’ apapun itu yang bisa
bermanfaat bagi sesama….!






Tidak ada komentar: